Posts

Saat Raja Iskandar Zulkarnain Belajar Pada Aristoteles

Image
“ Mereka akan bertanya kepadamu (Muhammad) perihal Zulkarnain. Katakanlah: ‘Aku akan bacakan kepadamu dongeng tentangnya’ “. (QS. Al-Kahfi : 83) Konon, Raja Philips II sangat gelisah ketika mempunyai anak laki-laki. Bagaimana sanggup mendidiknya sehingga sanggup menjadi pewaris kerajaan yang kuat, adil dan bijak. Sebab, sebagai Raja tentunya tidak sanggup mendidik anaknya dengan segala pengawasan dan perhatian yang diharapkan secara penuh. Setelah menginjak cukup umur ( tamyiz ), anaknya diserahkan pada seorang ulama yang berjulukan   Aristo atau lebih dikenal dengan nama Aristoteles , dia yaitu salah seorang santri Syech Aflathon atau  dikenal dengan nama Plato .  Aristo mau mendapatkan anak raja tersebut dengan syarat dibuatkan semacam asrama (Ponpes) yang dalam bahasa setempat disebut pondokeon . Masya Allah, tahukah Anda reputasi Kyainya Aristo (Aristoteles) yaitu Syech Aflathon (Plato)?  “Aku bertemu dengan Plato ya...

Pondok Pesantren Ta’Limul Qur’An Al-Asror (Pptq Al- Asror)

Image
PPTQ Al-Asror terletak di sebelah utara Masjid Besar Al-Muttaqien Kaliwungu atau bergandengan dengan Majelis Ta’limul Qur’an Kauman, Kaliwungu. Ponpes ini memang tidak dilengkapi dengan identitas atau plang pondok. Hal ini kemungkinan dikarenakan keta’dhiman Pengasuh Pesantren kepada sesepuh-sesepuh ulama Kaliwungu dan perilaku Pengasuh yang suka kesederhanaan dan tidak bahagia dengan hal-hal yang neko-neko. Sejarah Pesantren  Majelis Ta’limul Qur’an didirikan oleh al-Maghfurlah KH. Asror Ridwan, yaitu sekitar tahun 1960-an. Dan pada waktu itu ada sekitar 4-5 santri yang mengurus dan mukim di Majelis itu. Ada beberapa kemungkinan, mengapa ia tidak mendirikan Pesantren di kediamannya, padahal sudah ada 4-5 santri yang mendiami Majelis ia tersebut. Pertama , keta’dhiman ia kepada guru, paman dan sepupu-sepupunya, diantaranya KH. Ahmad Ru’yat, KH. Humaidullah Irfan dan KH. Ibadullah Irfan. Kedua , ia ingin lebih fokus mengasuh dan mengurus santri-santri Ponpes APIK sebag...

Ketika Bilal Kangen Rasulullah

Image
Selang beberapa waktu usai Nabi Muhammad saw. wafat, sobat Bilal ra. menghadap Sayyidina Abu Bakar ra. untuk meminta izin meninggalkan Madinah dan pindah ke wilayah Syam.  “ Apa alasanmu wahai Bilal? ” tanya Abu Bakar ra. " Di sini terlalu banyak kenangan bersama Rasulullah saw., sehingga ketika menatap setiap sesuatu yang pernah Rasulullah ‘sentuh’ , di situ ada bayangan yang mulia, sehingga hatiku terlalu ringkih dan mata ini terlalu berat untuk tidak menangis alasannya kecintaan yang begitu agung dan tulus ,” jawab Bilal. Setelah diizinkan, Bilal kemudian menetap di desa Bidariyan, bersahabat dengan Syam. Bilal pun tak lagi mengumandangkan azan. Bukan enggan, tetapi alasannya tak berpengaruh kalau hingga lafal “ Asyhadu anna muhammadan rasulullah ”. Perasaannya berkecamuk dan tak kuasa menahan air mata, teringat akan Rasulullah saw. Syahdan, di zaman Khalifah Umar bin Khattab yang diangkat untuk menggantikan Abu Bakar ra. yang telah wafat, pada suatu hari, B...